Dalam mitologi Yunani kuno, Cassandra dikenal sebagai seorang peramal perempuan yang diberi anugerah oleh dewa Apollo untuk melihat masa depan. Namun, anugerah itu berubah menjadi kutukan ketika tidak ada seorang pun yang mau mempercayai ramalannya. Ia bisa melihat bencana sebelum terjadi, tetapi suaranya dianggap angin lalu. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai Cassandra Paradox: ketika kebenaran disampaikan, tetapi justru diabaikan oleh khalayak yang lebih sibuk dengan kepentingan jangka pendek atau prasangka pribadi.

Jika kita tarik ke dalam isu kontemporer di bidang perkebunan Indonesia, paradoks ini terasa sangat relevan. Indonesia sebagai salah satu negara agraris dengan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi, tengah menghadapi tekanan besar dari berbagai arah: perubahan iklim, regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), degradasi lahan, hingga persoalan klasik berupa ketimpangan penguasaan lahan antara perusahaan besar dengan petani kecil. Berbagai pakar, peneliti, dan aktivis lingkungan sudah sejak lama mengingatkan tentang risiko-risiko tersebut. Namun, sering kali suara-suara itu tenggelam dalam hiruk-pikuk politik ekonomi jangka pendek, layaknya ramalan Cassandra yang tidak dipercaya.

Kita bisa melihat contoh paling gamblang pada isu kelapa sawit. Sejak dua dekade lalu, para ilmuwan sudah memberi sinyal bahwa ekspansi sawit tanpa kendali akan memicu deforestasi masif, konflik agraria, serta kerentanan ekonomi di tingkat petani. Namun, ketika harga sawit sedang tinggi, suara-suara peringatan itu dianggap sebagai hambatan pembangunan. Pemerintah dan perusahaan lebih senang merayakan devisa yang masuk ketimbang mengantisipasi risiko yang sudah tampak di depan mata. Kini, ketika Eropa menerapkan regulasi ketat yang menuntut produk bebas deforestasi, Indonesia mulai kelabakan. Seolah-olah kita baru menyadari kebenaran ramalan Cassandra setelah badai benar-benar datang.

Situasi ini sangat mirip dengan adegan publik yang belum lama terjadi ketika Rocky Gerung, seorang filsuf publik yang kerap mengkritisi kekuasaan, memilih walkout dari sebuah acara televisi swasta. Rocky melihat percakapan yang awalnya diharapkan bisa menjadi ruang dialog justru berubah menjadi arena propaganda. Ketika argumen logis tidak lagi mendapat tempat, maka keluar dari forum bisa menjadi bentuk perlawanan. Analogi ini bisa kita gunakan untuk menggambarkan posisi para peneliti dan aktivis yang selama ini berusaha memberi peringatan soal perkebunan. Mereka berbicara dengan data, dengan analisis, dengan kajian akademis. Namun, jika suara mereka terus-menerus diabaikan, apakah pada akhirnya mereka juga akan memilih 鈥渨alkout鈥 dari diskursus publik? Dan jika itu terjadi, siapa yang akan menanggung akibatnya?

Mari kita lihat fenomena kakao sebagai contoh lain. Indonesia pernah menjadi salah satu produsen kakao terbesar dunia. Namun, dalam satu dekade terakhir, produktivitasnya anjlok drastis karena hama, penyakit, dan rendahnya regenerasi tanaman. Para agronomis sudah lama memperingatkan perlunya program rehabilitasi kakao secara masif. Tetapi, kebijakan yang lahir justru setengah hati: program dibatasi, dukungan riset minim, dan harga di tingkat petani sering jatuh karena pasar dikuasai pedagang besar. Akibatnya, banyak petani meninggalkan kakao dan beralih ke komoditas lain. Ramalan kehancuran perlahan itu kini menjadi kenyataan. Cassandra kembali terbukti benar, tetapi sayangnya sudah terlambat.

Paradox Cassandra dalam perkebunan juga berkaitan erat dengan isu keadilan sosial. Sebagian besar perkebunan besar di Indonesia dimiliki oleh korporasi dengan akses modal dan teknologi tinggi. Sementara itu, petani kecil sering ditinggalkan dalam posisi rentan: sulit mendapatkan bibit unggul, pupuk berkualitas, akses pasar, dan perlindungan harga. Banyak akademisi dan lembaga swadaya masyarakat sudah berulang kali menekankan pentingnya inclusive business model yang memberi ruang lebih luas bagi petani. Namun, lagi-lagi, suara ini sering ditenggelamkan oleh narasi pertumbuhan ekonomi yang seolah hanya bisa diukur dari skala produksi nasional, bukan dari kesejahteraan petani.

Kondisi ini membuat kita bertanya: apakah kita memang terjebak dalam Cassandra Paradox? Apakah bangsa ini baru mau mendengar setelah bencana benar-benar terjadi? Misalnya, setelah lahan gambut terbakar, barulah semua pihak panik membicarakan restorasi. Setelah harga komoditas anjlok, barulah muncul wacana diversifikasi ekonomi. Setelah pasar Eropa menolak sawit, barulah kita sibuk menggenjot sertifikasi. Semua langkah ini tentu penting, tetapi mengapa selalu datang terlambat?

Dalam kacamata Rocky Gerung, fenomena semacam ini bisa dikaitkan dengan krisis nalar publik. Dalam banyak forum, logika sering kalah oleh retorika, dan data sering ditutupi oleh opini yang sudah dikunci oleh kepentingan politik. Cassandra tidak dipercaya bukan karena ramalannya salah, tetapi karena masyarakat lebih suka mendengar narasi yang menenangkan hati meski menyesatkan. Di dunia perkebunan, kita melihat hal serupa: lebih mudah meyakinkan publik dengan jargon 鈥淚ndonesia lumbung pangan dunia鈥 ketimbang membicarakan detail teknis seperti kualitas benih, perbaikan irigasi, atau model bisnis inklusif. Padahal, tanpa kerja serius di level teknis, slogan besar itu hanya akan menjadi pepesan kosong.

Namun, masih ada harapan. Cassandra Paradox sebenarnya bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia lebih merupakan peringatan agar kita belajar untuk mendengar, membaca tanda-tanda, dan menghargai suara-suara kritis. Dalam perkebunan, artinya kita perlu membuka ruang yang lebih luas bagi riset independen, bagi partisipasi petani kecil, dan bagi inovasi berkelanjutan. Pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha harus membangun ekosistem di mana kritik tidak dianggap ancaman, melainkan masukan.

Sebagai contoh, jika riset menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati terancam oleh ekspansi sawit, maka yang harus dilakukan bukan membungkam riset tersebut, melainkan mencari solusi bagaimana ekspansi bisa dilakukan dengan prinsip berkelanjutan. Jika petani kakao mengeluh soal harga yang tidak adil, maka yang harus dicarikan jalan keluar adalah mekanisme perdagangan yang lebih transparan, bukan sekadar menyuruh petani 鈥渂ersabar鈥. Dengan kata lain, kita butuh keberanian untuk mengakui kebenaran yang mungkin tidak enak didengar, tetapi justru menyelamatkan masa depan.

Fenomena walkout Rocky Gerung bisa kita baca sebagai simbol penting: ada batas kesabaran ketika argumen logis tidak lagi dihargai. Dalam konteks perkebunan, jangan sampai para ilmuwan, petani, dan aktivis benar-benar melakukan 鈥渨alkout鈥 dari ruang diskusi publik. Sebab, jika itu terjadi, kita hanya akan menyisakan ruang kosong yang diisi oleh jargon politik dan kepentingan sempit. Dan pada akhirnya, kerugian terbesar bukan hanya bagi mereka yang ignored, tetapi juga bagi bangsa secara keseluruhan.

Cassandra Paradox mengajarkan kita satu hal penting: kebenaran bisa saja tertunda pengakuannya, tetapi pada akhirnya ia akan datang juga. Pertanyaannya, apakah kita mau menyiapkan diri sejak awal dengan mendengarkan suara-suara peringatan, atau kita memilih menutup telinga hingga akhirnya dipaksa belajar lewat bencana? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah masa depan perkebunan Indonesia, apakah tetap menjadi pilar ekonomi yang kokoh, atau berubah menjadi beban yang rapuh karena kita gagal membaca ramalan yang sudah jelas terbentang di depan mata.

Penulis: Muhammad Parikesit Wisnubroto, S.P., M.Sc. (Dosen Fakultas Pertanian 天美MV)