Media sosial sering terasa seperti korek api di saku: sekali gesek, timbul nyala yang membuat orang menoleh. Tetapi pada hembusan pertama algoritma berganti, isu baru datang api itu padam. Kemenangan cepat berupa jumlah tayangan dan komentar sering membuat kita lupa bahwa opini publik yang benar-benar menempel tidak lahir dari keriuhan, melainkan dari pengulangan, notulen, dan pertemuan yang membosankan. Singkatnya, kecepatan digital harus bertemu ketekunan kerja offline. Api di layar hanya berarti jika ada tungku di lapangan.
Masalah utamanya bukan klik, melainkan daya lekat. Ganti avatar, tanda tangan digital, dan unggahan ulang hanyalah gerbang pertama. Jika ingin opini tidak menguap, setiap konten harus menyediakan jembatan yang jelas menuju tindakan: formulir keluhan warga, nomor kontak lembaga, pranala pendaftaran forum, atau tautan kebijakan yang sedang dibahas. Ukurannya pun sederhana dan membumi: berapa orang yang kembali hadir pada pertemuan kedua; berapa pertanyaan substantif yang masuk; berapa media lokal mengutip ringkasan kita. Kita sedang melatih otot, bukan mengejar satu lonjakan adrenalin.
Di sinilah estafet berpindah dari gawai ke ruang perjumpaan. Narasi yang tajam di layar perlu rumah yang konkret: komunitas kampus, paguyuban profesi, serikat pekerja, organisasi keagamaan, jaringan advokasi. Pertemuan yang efektif tidak harus panjang. Lima belas menit paparan, tiga puluh menit tanya jawab yang dipandu, lalu lima belas menit merumuskan butir keputusan sudah cukup asal ada pemandu, notulis, dan satu lembar ringkasan yang bahasanya konsisten dengan materi di media sosial. Viral hari ini berubah menjadi agenda pekanan: siapa mengerjakan apa, batas waktunya kapan, dan di mana melaporkan hasilnya.
Kita juga perlu belajar dari momen ketika nyala membesar lalu padam. Banyak gelombang digital yang sempat menunda sebuah rencana, namun kehilangan fokus ketika tuntutan bercabang ke mana-mana. Itu bukan kegagalan; ia menjadi memori kolektif. Tetapi ia mengingatkan harga dari fokus yang retak: perhatian melimpah, arah menghilang. Karena itu, gerakan butuh satu kalimat yang disepakati, bukan sepuluh kalimat yang diperdebatkan. Satu kalimat ini harus mudah diulang, bisa ditempel pada poster, dan cukup spesifik untuk diuji ketercapaiannya.
Koalisi yang kuat adalah pertukaran yang adil. Komunitas data membawa angka, jurnalis lokal membuka jendela ke publik, organisasi kampus menggerakkan relawan, sementara warga terdampak menyumbang cerita yang menjaga arah. Di belakang layar, mesin berjalan dengan tiga roda. Pertama, tim dokumen: membaca, merangkum, dan cek silang naskah kebijakan agar publik tidak tersesat pada opini yang menyesatkan. Kedua, tim institusional: mengurus surat, menyusun permohonan audiensi, menata notulensi bagian yang sering dianggap remeh tetapi menentukan kredibilitas. Ketiga, tim publik: menerjemahkan bahasa teknis menjadi bahasa warga, merawat hubungan dengan media massa, dan memastikan pesan tunggal selalu muncul di semua kanal.
Poin lain yang tak kalah penting adalah disiplin kurasi. Tidak setiap hari harus ada seruan baru. Algoritma menyukai frekuensi, namun publik menghargai relevansi. Lebih baik tiga unggahan yang terhubung rapi, fakta ringkas, cerita warga, ajakan tindakan ketimbang sepuluh poster yang saling menenggelamkan. Editorial plan mingguan membantu memastikan ritme: Senin data, Rabu cerita, Jumat ajakan. Pada setiap ujung pekan, lakukan audit kecil: konten mana yang memantik respon substantif, pertanyaan mana yang berulang, narasi mana yang perlu diperbaiki.
Generasi berbeda punya gaya berbeda, dan semuanya berguna. Aktivis 98 terbiasa berpanas-panas di jalan; milenial piawai merangkai dokumen dan jejaring; Generasi Z mahir mengolah visual, humor, dan format singkat. Kuncinya bukan mengadu gaya, melainkan menautkannya. Poster kreatif Gen Z menjadi pintu masuk; rangkuman milenial menambatkan isu; pengalaman aktivis senior mengarahkan strategi dan kanal lobi. Ketika ketiganya bekerja dalam satu agenda, perhatian berubah menjadi pengaruh.
Akhirnya, kita membutuhkan ukuran sederhana yang bisa dicerna publik maupun pengambil kebijakan. Bukan sekadar 鈥渢rending鈥, melainkan: berapa pemerintah daerah atau lembaga yang merespons secara resmi; kebijakan apa yang berubah redaksinya; pelayanan apa yang diperbaiki alurnya; atau bahkan sesederhana penjadwalan ulang rapat dengar pendapat yang sebelumnya tertutup. Transparansi hasil kecil ini menjaga kepercayaan, dan kepercayaan adalah bahan bakar paling stabil bagi opini publik.
Menjaga opini agar tidak menguap berarti menaruh hormat pada proses. Hormat pada data, pada notulen, pada nama-nama warga yang hadir berkali-kali, pada jurnalis lokal yang setia menulis, pada petugas yang membuka pintu, sekalipun pelan. Media sosial tetap alat yang berharga ia memantik, mempercepat, dan memperluas jangkauan. Namun agar nyalanya bertahan, kita perlu tungku yang lebih kokoh: pertemuan rutin, agenda jelas, koalisi yang saling melengkapi, serta bahasa tunggal yang mudah diulang dan mudah diukur. Bila dua jalur ini benar-benar saling mengikat, kita tidak lagi terjebak mengejar sensasi harian. Kita sedang membangun memori publik lapis demi lapis hingga suatu hari, kebiasaan baik mengalahkan kebisingan, dan api kecil itu tinggal lebih lama, memberi hangat pada ruang bersama kita.
Penulis: Diego (Dosen Ilmu Komunikasi UNAND)
听

