Keputusan untuk berwisata kini lahir dari layar telpon pintar. Orang melihat destinasi, membayangkan pengalaman, lalu memesan berdasarkan apa yang mereka saksikan di media sosial. Di Sumatera Barat, arus perhatian digital itu sudah mengalir; yang kerap kurang adalah cara mengubahnya menjadi kunjungan yang tertata, manfaat ekonomi yang nyata bagi warga, dan pengalaman yang layak diceritakan ulang tanpa merusak alam dan budaya. Karena itu, tujuannya bukan sekadar mengejar 鈥渧iral鈥, melainkan membangun alur promosi yang rapi: cerita yang informatif, koordinasi pelaku yang solid, pengukuran sederhana namun konsisten, dan tindak lanjut yang terasa di lapangan.
Narasi menjadi pintu masuk pertama. Banyak akun destinasi masih menayangkan foto indah tanpa konteks, padahal calon wisatawan membutuhkan kepastian: apa yang bisa dilakukan, kapan waktu terbaik, bagaimana aturan di ruang adat, berapa kisaran biaya, dan siapa yang bisa dihubungi. Konten yang efektif menggabungkan visual bersih dengan informasi ringkas misalnya rencana setengah hari di sebuah nagari, jalur jalan kaki yang ramah keluarga, atau agenda budaya yang bisa diikuti. Format seperti ini memperpendek jarak antara 鈥渓ike鈥 dan 鈥渂erangkat鈥. Satu grafis sederhana yang memuat harga, akses transportasi, titik temu, dan kontak pelaku lokal akan lebih menentukan keputusan ketimbang estetika semata. Cerita tentang pantai di Mandeh, gelombang Mentawai, atau sederhananya 鈥渟ulit mencari makanan yang tak enak di Sumatera Barat鈥 menjadi kail yang relevan. Liburan pun berpindah dari kumpulan foto menjadi kisah pribadi yang ingin ditiru orang lain.
Begitu cerita mulai dibuat, promosi perlu diorkestrasi. Destinasi yang tumbuh sehat biasanya memiliki gugus kerja lintas pelaku: pemerintah daerah, asosiasi hotel restoran, komunitas pemandu, UMKM, pengelola atraksi, hingga kampus. Perannya jelas menyatukan pesan inti (cukup tiga鈥搇ima pengalaman unggulan), menyusun kalender konten bersama, menjaga standar respons di kanal resmi, dan memverifikasi daftar pelaku lokal. Jika peran dibagi dengan rapi, unggahan dari banyak akun saling menguatkan alih-alih saling menenggelamkan. Kampus dapat berperan sebagai 鈥渓aboratorium konten鈥: mahasiswa memproduksi materi berbasis riset kecil, destinasi mendapat pasokan konten berkelanjutan, tidak hanya hidup ketika ada proyek atau kunjungan pejabat.
Di sisi teknis, pengungkitnya adalah kapasitas. Banyak pengelola destinasi kecil punya semangat, tetapi terkendala keterampilan dasar. Pelatihan praktis fotografi ponsel, penulisan caption informatif, etika membalas komentar, dan analitik sederhana cepat terasa dampaknya: kualitas unggahan membaik, pertanyaan dijawab lebih sigap, dan calon tamu lebih mantap mengambil keputusan. Tambahkan pedoman gaya singkat agar visual dan bahasa konsisten di berbagai akun tanpa membuat proses kreatif kaku.
Agar promosi tidak berubah menjadi hiasan, ia harus diukur. Evaluasi tak perlu rumit; mulai dari empat indikator yang masuk akal: ritme unggahan mingguan, kecepatan menjawab pertanyaan, asal audiens (lokal atau luar provinsi), dan tingkat konversi sederhana dari pesan masuk ke reservasi. Data tipis seperti ini cukup untuk menentukan format mana yang dipertahankan dan mana yang dihentikan. Peninjauan di akhir bulan menjaga fokus; evaluasi per tiga bulan memberi ruang koreksi arah yang lebih substansial.
Di saat yang sama, keberlanjutan bukan embel-embel, ia syarat agar pengalaman tetap layak. Beberapa lokasi memiliki daya dukung terbatas; ada musim ketika habitat perlu tenang. Karena itu, informasi tentang kapasitas harian, jam kunjung, titik kumpul, dan etika di ruang adat sebaiknya selalu hadir berdampingan dengan rute dan harga. Narasi yang menegakkan batas justru melindungi modal utama: alam, budaya, dan keramahan.
Pengelolaan ekspektasi ikut menentukan kualitas ulasan. Jangan menjanjikan cuaca sempurna, lokasi selalu sepi, atau 鈥渟pot rahasia鈥 yang sebenarnya sulit diakses. Jika medan menantang, katakan apa adanya dan tawarkan alternatif yang setara. Kejujuran di awal menghemat biaya koreksi di akhir bagi wisatawan maupun pengelola.
Lalu soal manfaat ekonomi: libatkan warga agar mereka mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Idealnya, setiap konten menyertakan jalur pemesanan milik pelaku lokal homestay, pemandu, dapur komunitas, penyewaan perahu dengan kontak yang aktif. Kurasi paket sederhana yang mudah dibeli: jelajah pasar pagi plus sarapan, belajar memasak rendang, tur arsitektur rumah gadang, atau jalur sepeda ringan. Harga transparan, durasi pasti, titik temu jelas. Katalog daring yang ringkas dan tervalidasi akan mengurangi kebingungan, mempercepat keputusan, dan menutup celah bagi praktik perantara yang tidak adil.
Program promosi sering redup ketika proyek selesai atau pejabat berganti, sementara algoritma hanya 鈥渕enghargai鈥 akun yang hidup, responsif, dan relevan. Jika promosi digital diposisikan sebagai layanan publik yang mengarahkan belanja wisata secara adil, menjaga daya dukung, dan menambah kebanggaan warga maka ia bertahan melampaui siklus anggaran. Sumatera Barat tidak kekurangan daya tarik; yang dibutuhkan adalah disiplin mengemas cerita, kolaborasi yang rapi, serta keberanian menilai hasil apa adanya. Karenanya setiap unggahan tidak hanya menambah like, tetapi juga menambah alasan bagi orang untuk datang, kembali, dan membawa pulang cerita baik tentang rumah kita.
Penulis: Revi Marta (Dosen Ilmu Komunikasi UNAND)
听

